Tentang “Takut Mati”

0
25
views

Saat Muhammad Ali ditanya oleh salah satu fans-nya, “Apa yang akan kau lakukan setelah karir tinjumu selesai?” Ia bertutur tentang kematian.

Muhammad Ali menuturkan bahwa gelar tinjunya tidak akan membuat Sang Maha Pencipta terkesan. Perbuatan baiknyalah yang akan menolongnya nanti. Maka ia berencana untuk membantu sebanyak-banyaknya orang melalui nama besarnya.

Saya banyak mendengar tentang kematian. Tentang penghakiman setelah tubuh ini tidak bernyawa.
Tentang apa yang terjadi setelah manusia tidak lagi hidup di bumi.
Tapi semua yang saya dengar tidak kemudian membuat saya berubah dalam menjalani hidup.
Saya tetap terburu-buru, tergesa-gesa, dan dipenuhi dengan “harusnya begini” dan “harusnya begitu.”
Penuh dengan rencana dan tidak pernah merasa “cukup.”
Selalu merasa “kurang” dan lupa bersyukur.

Entah kenapa video Muhammad Ali menyadarkan saya.
Bahwa saya bisa meninggal kapan saja.
Bahwa saya bisa meninggal 2 detik dari sekarang.

Lalu saya berpikir.
Saya berpikir tentang hal-hal yang ingin saya lakukan tetapi belum sempat saya kerjakan.
Saya berpikir tentang anak saya.
Saya berpikir tentang hutang saya.
Lalu saya mulai berpikir tentang “jiwa” saya sendiri.

Dalam keadaan “jiwa” yang bagaimana saya tenang saat dibawa pergi?
Dalam kondisi bagaimana saya “ikhlas” saat waktu saya di bumi selesai?

Saya pun mulai memikirkan 2 detik dari sekarang.
Hutang?
Sang Maha Besar tahu berapa saya tidak pernah meremehkan hal yang satu ini.
Maka asalkan saya terus berusaha melunasinya, saya ikhlas.

Harta benda?
Nah!
Tempat tinggal, pakaian, kamar mandi, tempat tidur.
Bagaimana jika 2 detik dari sekarang saya sudah tak bernyawa?
Apakah saya akan lulus “inspeksi” dalam mensyukuri berkahnya?
Apakah semuanya sudah saya rawat dan jaga?

Banyak video motivasi yang saya lihat menyatakan “banyak orang menyesal atas ap yang mereka tidak lakukan.”

Maka saya mulai berbenah.
Saya memilih barang-barang yang benar-benar saya pakai, dan relakan sisanya.
Semua yang saya pakai saya jaga dan rawat baik-baik.

Anak.
Nah! Nah ini dia 😹
Saat ini yang saya pikirkan adalah, jika Allah mengambil saya 2 detik dari sekarang, kondisi hati saya sedang dipenuhi “kasih sayang” terhadapnya.
Jadi saya pun mulai menjaga mood, cara bicara dan cara berpikir saya.

Pekerjaan.
Kebetulan, Allah mempercayai saya untuk menjadi guru.
Maka saya pun hanya akan ikhlas jika saya pergi dalam keadaan “memberikan yang terbaik” saat saya bekerja.
Kadang di pekerjaan saya, “yang terbaik” bukan dinilai dari cara mengajar. Tetapi seberapa baik kita betul-betul “mendengarkan” mereka.

Hal-hal sepele.
Kemarin saya pergi ke salon dan berharap berubah cantik jelita seperti ratu sejagad.
Dan ketika itu tidak terjadi, sebetulnya saya dongkol.
Tapi lalu saya teringat, apakah saya rela jika meninggal dalam keadaan kesal? No way!
Rambut bisa tumbuh kembali, dan gelar ratu sejagat siap untuk diperjuangkan setiap tahun. 😹

Yang saya sadari dalam perjalanan saya menyelami “kematian” lewat Muhammad Ali adalah :

Waspadalah! Waspadalah!
😹😹😹
Jangan lengah.
“Sadarlah” selalu.
Hidupmu bisa jadi hanya 2 detik dari sekarang.
Tentukan bagaimana kau akan meninggal dari sekarang.
Rencanakan, lalu usahakan setiap saat.
My plan is to be happy!
How about you?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here