Stranger Things dan Usaha Untuk Mengubah Dunia

0
60
views

Pada suatu hari, dunia ini sedang berjalan dengan tidak seharusnya, saya ingin mengubahnya.

Mari mulai tulisan ini dengan sebuah kalimat yang berat. Membacanya saja langsung terbayang sebuah gerakan revolusi bersenjata dengan mengerahkan masa yang siap geruduk siapa saja dan apa saja yang menghadang. Terbayang sebuah rapat di ruangan tertutup berpencahayaan minim di sebuah bangunan yang lokasinya jauh dari keramaian. Kemudian suara pekikan, “revolusi!” bergema di seisi ruangan disertai desingan peluru dari senapan mereka. Oke, yang terakhir ini bisa jadi pemborosan dan berpengaruh pada efisiensi revolusi.

Terbayang juga seorang pria di sebuah ruangan gelap berukuran sempit dengan mata nanar menatap layar komputernya. Jarinya yang gesit menari di atas keyboard, mengetikkan sebuah bahasa tingkat rendah yang dimengerti oleh komputer. Sang pria sedang berusaha meretas sistem pemerintah untuk mencuri dokumen tentang operasi jahat yang dilakukan rezim ini.

Atau, kita serahkan saja usaha mengubah dunia ini kepada HAL 9000. Tidak!

Beberapa dari kita juga mungkin terbayang dengan sosok manusia setengah gaib yang hidup di dimensi lain, berpakaian merah dengan tampang setengah anjing. Ia memiliki kekasih seorang wanita lincah bersenjata panah. Oke, yang ini tidak secara langsung berkaitan dengan tema mengubah dunia, hanya saja lagu yang dijadikan musik tema memiliki judul yang sama, “Change The World“.

Mengubah dunia, mulai dari mana?

Beberapa waktu lalu saya baru saja menyelesaikan studi, eh bukan, menonton film seri netflix yang berjudul “Stranger Things”. Ada poin penting di film seri ini yang menjadi inspirasi utama dalam menentukan judul tulisan ini.

Stranger Things adalah sebuah film seri fiksi-ilmiah amerika dengan set sebuah kota bernama Hawkins di awal tahun 80-an. Alkisah diawali dengan hilangnya seorang anak laki-laki melalui beberapa kejadian supernatural dan juga aksi investigasi seputar kejadian ini. Kemudian juga munculnya seorang anak bernama Eleven dengan kemampuan telekinesis yang membantu menemukan sang anak laki-laki.

Kemampuan Eleven dalam hal telekinesis atau kekuatan jahat Mind Flayer yang hidup di dimensi alternatif sangat mampu untuk mengubah dunia. Eleven adalah obyek penelitian rahasia laboratorium pemerintah pusat yang awalnya hendak digunakan sebagai penyusup untuk mencuri informasi rahasia Rusia. Mind Flayer adalah penguasa kegelapan di dimensi upside-down yang entah apa jadinya kalau sampai keluar gerbang.

Bagi saya, kekuatan utama yang berpotensi mengubah dunia bukanlah pada Eleven maupun Mind Flayer, meskipun, ya, satu kali lagi anjing-anjing demogorgon berganti kulit bisa jadi akan sangat mengerikan. Perhatian saya jatuh pada A.V. Club dengan mentor sekaligus guru IPA tercinta, Pak Scott Clarke.

Mimisan adalah kompensasi yang tak seberapa jika dibandingkan dengan informasi rahasia dari musuh negara, ya?

Scott Clarke adalah guru IPA idaman siapa saja. Ia mudah untuk disukai, menyenangkan, bersedia membantu apa saja, dan guru penyayang yang sangat dihormati oleh anak-anak Stranger Things. Ia juga orang pertama yang anak-anak cari ketika sedang membutuhkan sesuatu untuk sebuah proyek eksperimen.

Sebuah kualitas ditunjukan Scott Clarke dalam salah satu episode, yaitu ketika ia sedang asik menonton film di malam hari dengan kekasihnya yang bernama Jen, kemudian Dustin menelponnya hendak menanyakan cara membuat sensory deprivation tank. Sang guru kemudian dengan sabar menjelaskan langkah demi langkah. Kalau saya yang ditelepon malam-malam begitu, masih untung kalau diangkat ya.

Oke, poinnya, Pak?

Kita, atau mungkin saya saja ya, sering kali terjebak dalam pemikiran-pemikiran besar ketika tergugah untuk berkontribusi dalam menjadikan dunia ini lebih baik. Jargon “langkah kecil untuk hasil yang besar” bukan sekali-dua kali mampir di depan mata kita, namun tetap saja, banyak pasir hisap imajiner kita yang kerap membuat langkah kita menjadi berat.

Menjadi seorang guru yang baik untuk anak didik calon penerus generasi bangsa seperti Pak Scott Clarke juga bisa jadi merupakan langkah besar jika harus memikirkan langkah-langkah yang harus diambil untuk bisa mengajar IPA di sekolah. Latar belakang dan sertifikasi pengajar, kurikulum yang dipakai, metode pengajaran.

Atau mungkin, kita memang seharusnya berkubang dan menggeliat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here