“Saya suka gambar saya!!!”

0
40
views

Kalimat ini diucapkan dengan lantang atas pertanyaan “Bagaimana perasaan kalian terhadap karya kalian?”

Mengapa pertanyaan yang demikian? Karena seperti biasanya, di saat-saat diberikan kesempatan untuk berkumpul dengan para teman-teman kecil, saya tersadar akan sesuatu yang penting.

Diawali dengan pemikiran bahwa kemampuan untuk berapresiasi adalah suatu “skill” hidup yang sangat penting.
Kebiasaan mencela, memberi komentar yang tidak membangun, mencari-cari kesalahan sangat kental terasa, sehingga saya merasa bahwa kami semua butuh untuk belajar memberikan apresiasi kepada karya orang lain.

Diawali dengan menanyakan pendapat mereka tentang karya teman-temannya. “Fokus kepada hal yang positif ya, cari yang kalian suka lalu ucapkan,” saya berkata.
“Tapi saya tidak suka apapun dari gambar itu,” ujar satu anak terhadap satu gambar.
“Tidak apa-apa, berarti bukan selera kamu. Tetapi kali ini, jika kamu tidak suka apapun, berarti tidak berkata apa-apa dulu ya. Kita sedang berlatih memberikan apresiasi,” terang saya.

Setelah kegiatan itu, kami pun beralih ke pengenalan salah satu elemen dari menggambar yaitu “garis.” Di sini anak-anak secara tidak sadar harus memikirkan bentuk gambar yang terdiri dari macam-macam garisnya sendiri.
Setiap karya berbeda.
Ini yang membuat mereka
mulai membandingkan karyanya dengan karya orang lain dan merasa rendah diri.

Kata-kata “jelek” dan pertanyaan “Ibu, gambar aku betul
tidak?” mengalir dengan deras.
Saya tanggapi dengan,
“Saat kalian menunjukkan gambar kalian, tunjukkanlah dengan percaya diri.” Ucap saya memberi semangat. “Jangan lupa perlihatkan dengan senyuman. Ingatlah bahwa dalam seni tidak ada salah dan benar.”

Rasanya, saatnya mereka belajar mengapresiasi hasil karya mereka sendiri.
Satu demi satu mencoba mencari sesuatu di gambarnya masing-masing dan mencoba mengapresiasikannya.

Di situlah saya menyadari
bahwa kita selayaknya belajar mengapresiasi karya dan usaha diri kita sendiri sebelum menghargai karya orang lain. Karena bagamanapun, seringkali kita adalah kritikus terkejam bagi diri sendiri.

Suatu ilmu yang saya sadari berkat teman-teman kecil kami di Kelas Sabtu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here